← Kembali ke Blog

Nama "Banana Keraton" bukan sekadar nama dagang. Kata "Keraton" sengaja dipilih sebagai penghormatan pada sejarah panjang Kesultanan Cirebon — kerajaan yang membentuk identitas kota ini, termasuk kekayaan kulinernya. Supaya lebih kenal akar cerita itu, yuk telusuri sedikit sejarahnya.

Dari Dukuh Caruban ke Kesultanan Islam

Jauh sebelum jadi kota yang ramai seperti sekarang, Cirebon awalnya adalah dukuh kecil yang dirintis oleh Ki Gedeng Tapa. Dukuh ini berkembang menjadi desa ramai bernama Caruban — nama yang mencerminkan keberagaman suku, agama, bahasa, dan mata pencaharian para pendatang yang singgah untuk tinggal atau berdagang di sana. Dari titik inilah cikal bakal Cirebon sebagai kota persimpangan budaya bermula.

Pangeran Cakrabuana, Peletak Fondasi Kesultanan

Sejarah Kesultanan Cirebon bermula dari Pangeran Cakrabuana, yang juga dikenal sebagai Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran. Pada tahun 1430, ia membangun pedukuhan di Kebon Pesisir, mendirikan Kuta Kosod, dan membangun Dalem Agung Pakungwati sebagai pusat pemerintahan. Setelah memeluk Islam dan berguru kepada Sunan Ampel, Pangeran Cakrabuana kemudian menyerahkan tampuk pemerintahan kepada keponakannya, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.

Masa Kejayaan di Bawah Sunan Gunung Jati

Di tangan Sunan Gunung Jati, Kesultanan Cirebon memasuki masa keemasan. Sektor agama, politik, hingga perdagangan berkembang pesat, menjadikan Cirebon salah satu kerajaan bercorak Islam tertua dan paling berpengaruh di Pulau Jawa. Letaknya yang strategis di jalur pelayaran dan perdagangan pesisir utara membuat Cirebon jadi tempat bertemunya berbagai bangsa dan budaya — sesuatu yang nantinya juga membentuk kekayaan kuliner kota ini. Kalau kamu penasaran bagaimana persimpangan budaya ini akhirnya melahirkan cita rasa khas Cirebon, baca juga kenapa Cirebon dijuluki Kota Udang dan Kota Wali.

Dari Sajian Sultan ke Jajanan Rakyat

Salah satu warisan yang paling terasa sampai sekarang adalah kulinernya. Beberapa hidangan khas Cirebon awalnya adalah menu utama para sultan untuk menjamu tamu kehormatan istana. Empal gentong misalnya, sudah jadi bagian tradisi kuliner Cirebon sejak abad ke-15 dan bahkan pernah dipakai sebagai media dakwah penyebaran Islam di masa lalu. Seiring waktu dan memudarnya pamor kesultanan, hidangan yang dulu eksklusif untuk sultan dan kerabatnya ini akhirnya bisa dinikmati siapa saja — dari warga lokal sampai wisatawan yang singgah di Cirebon.

Kenapa Nama "Keraton" Dipilih Banana Keraton

Perjalanan sejarah itulah yang menginspirasi nama Banana Keraton. Kami percaya camilan berbahan pisang dan mangga pilihan pantas terasa istimewa seperti sajian istana — dari Pisang Susu Cirebon, cake dan pie mangga gedong gincu, sampai Nastar Mangga jumbo yang jadi favorit oleh-oleh keluarga. Bedanya, semua produk ini tidak eksklusif untuk kalangan tertentu: siapa saja bisa memesannya online lewat WhatsApp atau datang langsung ke outlet kami di Cirebon.